-
Ini tentang Ibuku
Ibuku kelahiran ‘62. Bisa dibayangkan betapa kendurnya kulit beliau saat ini. Rambutnya sudah mulai didominasi warna putih. Berulang kali kudengar ia meminta semir rambut padaku. Hampir setiap hari aku bersamanya sejak lulus SMP. Waktuku tak banyak, namun semua waktu luang kuhabiskan di rumah bersamanya. Aku hafal gaya bicaranya saat aku bermalas-malasan karena terlalu banyak nongkrong di depan tv…
“TV itu bikin males. Karena mata yang bekerja. Coba dengerin radio atau musik aja, kan bisa sembari nyapu, masak atau ngegosok baju. Kalo nonton tv? Bisa sambil ngapain? MATIIN TVNYA!”
YAH BEGITULAH KIRA-KIRA.
LOH, KENAPA TULISANNYA GEDE SEMUA???!?!?
*MATIIN TOMBOL CAPSLOCK*
Alhamdulillah.
Begitulah ibuku. Akhir-akhir ini entah kenapa aku merasa usianya sudah mulai senja. Beliau agak susah mengingat dimana kacamatanya ia simpan. Juga terbata-bata saat bicara karena lupa apa yang mau dibicarakan. Gerakannya sudah tak segesit dahulu. Matanya sudah tak setajam ketika aku memintanya menunjukkan padaku mana huruf A dan mana huruf B. Tenaganya seolah berbicara padaku “ayu, aku sudah tak kuat”. Aku jadi bingung sendiri melihat keadaannya. Dari kelima anaknya, hanya aku yang paling sering menemaninya dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci berpuluh-puluh baju, merapikan piring yang kotor, menyapu rumah yang hampir setiap 6 jam sekali tertutup debu halus, membantunya membawa barang belanjaan dan memasukkan benang ke lubang jarum kecil di mesin jahitnya.
Ah, ibu… Kadang saat kau marah dan terdiam, aku mendengar bantingan-bantingan pintu atau melihat cucian baju yang didiamkan begitu saja sampai satu minggu atau mengosongkan meja makan tanpa ada sebutirpun nasi diatasnya atau merasakan debu-debu yang masuk lewat saluran pernafasanku karena pojokan rumah yang gak disapu. Ternyata begitu caramu membuat kami-anak-anakmu-kapok karena telah membuatmu geram akan sikap kami. Maafkan aku, bu…
Akhir-akhir ini kulihat badannya kurang sehat. Ada saja keluhan yang ia lontarkan padaku saat aku juga mengeluhkan keadaanku padanya. Beliau bilang…
“Bukan kamu aja yang pegel punggungnya, mami juga pegel, tapi mami gak mau ngomong, gak mau ngerepotin”.
Oh ya, ternyata keluhanku yang terdiri dari beberapa kata telah membuatnya kerepotan. Maafkan aku, bu.
Ibuku adalah orang yang pertama kali bangun tidur untuk menyiapkan kopi dan sarapan untuk keluarganya. Beliau yang terakhir tidur untuk memastikan pintu dan jendela rumah telah terkunci. Beliau yang paling lelah karena harus mencuci piring setiap malam agar esok pagi dapurnya cantik dan siap untuk dipakai lagi. Beliau yang paling pusing dalam memikirkan kemana arah anggaran keuangan belanja berputar. Beliau yang ketika salah satu dari anggota keluarganya sakit, mengantarkan ke klinik dengan bersusah payah dan merelakan budget untuk beli beras besok ditunda dulu untuk beberapa waktu. Beliau yang gampang sekali down hanya karena anak-anaknya berteriak terlalu keras atau karena ada genangan air di lantai. Beliau yang telah 5 kali mempertaruhkan nyawanya demi kehidupan anak-anak buah cintanya dengan ayahku.
Barusan aku merapikan meja makan. Melihat sekeliling rumah untuk memastikan semua motor sudah ada pada tempatnya dan tak ada bau gas di dapur. Itu saja sudah membuat aku lelah. Namun kuingat lagi jerih payahnya tadi dan itu memotivasiku untuk selalu semangat, karena aku akan menjadi sepertinya, sepanjang waktu menciptakan surga di rumah, memberi asupan energi lahir dan batin kepada anggota keluarga dan membuat anak-anakku tau beratnya tugasku sebagai ibu kelak dan kerasnya ayah mereka bekerja agar perut mereka tak kosong.
Mungkin Tuhan telah merencanakan agar aku dekat dengan ibuku secara intens ketika aku mulai dewasa, agar aku menemaninya mengerjakan pekerjaan rumah, agar aku belajar bahwa menjadi seorang ibu-asisten ayah-sangatlah tidak mudah, karena ternyata tak lama setelah itu aku memang harus menjalani tugasku sama sepertinya-seorang istri dan ibu.
Ibu, tak tau lagi kata apa yang harus kuucapkan padamu. Andai saja ada sebuah kata yang lebih dari sekedar “cinta”, mungkin aku telah mengatakannya padamu.
-
Dengarkan aku, sekalipun kulit kita sudah mengendur, aku masih akan tetap menciummu. Seperti biasanya.
-
Malam Pertama
Bulan menguning terang. Bulat sempurna. Angin malamnya berhembus sampai melewati rongga dadaku. Bersamaan dengan itu, dia menghangatkan tubuhku dengan tubuhnya. Lalu dia memelukku di ranjang kecil itu, memelukku erat sambil sesekali membelai rambutku yang sudah basah dengan keringat dan mengemukakan banyak alasan mengapa dia menikahiku beberapa jam yang lalu.
Dan sebelum itu dia membacakan padaku sedikit ayat Al-Qur’an,
“Istriku sayang, surat Ar-rum ayat 21 berbunyi: telah Kami ciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram. Dan itu alasanku menikahimu. Aku ingin merasa tentram”.
Lalu aku tersenyum kecil di kamar kami yang gelap. Entah dia melihatnya atau tidak. Dan dia membelai sekali lagi rambutku yang berurai panjang awut-awutan di atas dadanya yang sudah tak berbenang barang sehelai.
Aku merayunya. Dengan tetap menghormatinya sebagai suami. Tapi dia membuatku kesal sampai aku memalingkan wajahku dan membalikkan tubuhku sehingga membelakanginya. Hening sebentar sampai dia menyentuh bagian tubuhku dan membalikkan tubuhku hingga menghadap wajahnya sambil bilang,
“Sayang, ketika tidur bersama, seorang istri tidak boleh memalingkan wajah dan tubuhnya sampai membelakangi suami kecuali suaminya ridho”.
Dia tak pernah tau. Bahwa aku senang mendengarnya berkata demikian.
Waktu sudah terlanjur pagi. Dia lanjutkan kalimat-kalimatnya dengan sentuhan-sentuhan lembut yang sudah kutunggu sejak 3 jam lalu kami berbaring di atas tilam yang sama.
Sangat cepat. Ketika itu peluh kami sudah menyatu di antara tilam batik dan sarung suamiku. Mungkin membelai rambutku adalah hal yang ia suka malam itu. Dia mengulanginya padaku sambil terengah-engah,
“Istriku tercinta, kalau saja kamu adalah seorang pelacur dan aku adalah bangsat yang menyewamu untuk memuaskanku, maka aku adalah seseorang yang kaya raya, yang mampu membeli tubuh pelacur terhebat, pelacur kelas atas semacam kamu”.
“Suamiku sayang, demi Tuhan, aku memang seorang pelacur. Aku seorang pelacur ulung, pelacur terhebat yang pernah ada, yang hanya rela tubuhnya dibeli bangsat kaya raya. Yang rela menjadi pelacur seumur hidup hanya untuk 1 bangsat, dan itu adalah kamu. Suamiku”.
Aku tau dia tersenyum di balik ekspresi wajahnya yang dingin itu. Mari bertaruh, lelaki mana yang tak melayang hatinya jika aku berkata seperti itu? Dan perempuan mana yang tak merah pipinya jika ada seorang lelaki memuji kehebatannya di atas ranjang?
Waktu berlalu. Hampir subuh ketika itu. Dan dia memelukku erat. Sangat erat sampai aku dapat melihat pori-porinya di kegelapan. Kali ini dia sebutkan kalimatnya yang terakhir. Menutup malam dengan lembaran-lembaran dingin embun yang bening di atas kaca. Memeluk seorang wanita muda yang kehilangan kegadisannya dengan selimut doa dari para malaikat di atas langit. Iblis pun menyaksikan, ada seorang suami yang mengecup kening istrinya di kamarku dan membacakan padanya doa sebelum tidur dan hamdalah. Mereka tidur bersama. Ya, aku dan suamiku.
“Sayangku, aku masih tak menyangka, hanya dengan kalimat ‘saya terima nikah dan kawinnya kamu binti ayahmu dengan mas kawin yang tersebut tunai’, aku sudah bisa menidurimu. Berada di sampingmu di bawah selimut yang sama. Kamu tau? Ketika aku mengucapkan kalimat itu, tanggung jawab orang tuamu berpindah padaku. Bahkan tanggung jawabku justru lebih besar. Karena tanggung jawab seorang suami terhadap istri lebih besar daripada tanggung jawab orangtua kepada anak-anak mereka, untuk itu Tuhan menghalalkan kepadaku kemaluanmu. Kamu sudah menjadi hak-ku. Kamu, harus patuh terhadapku. Bahkan Tuhan pernah berfirman: ‘jika menyembah manusia diperbolehkan, maka manusia yang disembah pastilah seorang suami’ karena begitu berat tanggung jawab suami terhadap istri. Sekarang sayang, hari sudah pagi. Mari kita lepaskan lelah kita dalam mimpi, biarkan Tuhan meminta malaikat menjaga kita pagi ini”.
-
Sebuah surat permohonan maaf
Pagi itu aku sudah rapi dengan segala make up di wajahku. Dengan sanggul yang berbalut jilbab dan brukat putih mirip gaun Kate Middleton saat menikah. Sebuah dering berbunyi dari BBku. Mengagetkanku yang sedang melamun tentang ijab kobul yang akan diucapkan calon suamiku pagi ini.
Sebuah surat elektronik masuk. Dari pengirimnya, aku sama sekali tak kenal. Dengan subjek “selamat menempuh hidup baru” dan alamat email yang tak kukenal itu aku berasumsi mungkin dia pengagum rahasiaku. Setelah aku buka, betapa terkejutnya aku dengan isi suratnya.
Aku membacanya hampir 6 kali pagi itu. Membacanya lagi….dan lagi… Berharap aku tak salah membaca kalimat perkalimat yang dibuat di surat itu. Dan setiap membacanya, air mataku berlinang.
Teruntuk pengirim surat, aku tau siapa kamu. Meskipun aku tak mengenal alamat emailmu, aku yakin ada alasan yang kuat kenapa kamu membuat surat itu untukku dengan alamat yang baru. Untuk kamu, dimanapun kamu berada, mantan kekasihku yang tercinta, dengan segala kalimat yang kamu buat di surat itu, kamu mengingatkanku kembali ke kejadian setahun lalu saat kamu membuatkanku sebuah puisi di bawah hujan, di dalam mobil sedanmu yang terlalu dingin pagi itu, yang kamu singkirkan dari jalan dan menepi untuk menuliskan puisi dan kamu kirimkan padaku dengan maksud agar aku tau betapa kamu mencintaiku.
Surat yang kamu kirim kali ini, jelas membuatku begitu cepat mengingat namamu. Terimakasih. Dengan datangnya surat itu, aku semakin lupa bahwa kita pernah saling mencinta. Kita sudah bahagia dengan suami dan istri kita masing-masing. Oh iya, anakmu, si bungsu Pingu itu, aku pernah memimpikannya suatu malam. Dia menyadarkanku akan dosa yang pernah kulakukan. Maafkan aku. Bagaimanapun Tuhan mempertemukan kita lagi nanti, jangan pernah ingatkan aku bahwa kamu pernah ada di hatiku. Beri tahu aku, bahwa saat kita bertemu nanti, adalah kali pertama kita bertemu. Aku…..mencintai suamiku. Terimakasih.
*suratnya seperti ini:
Buat Gadis Kecilku Yang Kini Tlah Dewasa… Kami segenap keluarga besar ‘kunci yg telah tertelan dalam peti yg telah terkubur’ mengucapkan :Selamat Menempuh Hidup Baru…Semoga Menjadi Keluarga Yang Sakinah Mawaddah Warahmah Wabarokah…Baarokallahulaka Wabaaroka ‘alaika Wajama’a Bainakumaa Fii Khairiin…Permohonan maafku yang tak berujung…
Aku mungkin jadi tamu pertamamu, disini…
Dan tak perlu menungguku hadir diluar dunia ‘Matrix’.. Aku sudah cukup bahagia melihat namamu yang telah bersanding..
Salam hangat penuh hormat buat Sang Kreator ‘Es Manohara’. -
Surat Cinta
Senin, 2 April 2012.
Selamat malam, apih. 10.58 waktu aku nulis ini untuk apih. Apih apa kabar? Aku baik pih. Kita makin hari semakin jauh aja ya pih. Ya, sebenernya 50km itu deket sih, tapi kalo jalan kaki kan jauh pih…
:p
Pih, apih jangan bosen ya, setiap aku kirim surat buat apih, aku pasti bilang kangen. Sekarang aku mau bilang kangen lagi. Kangenku gak abis-abis pih, belom hilang kalo belom meluk apih dari belakang. Apih tau gak? Aku sukaaaaa banget meluk apih dari belakang. Badan apih anget. Apih keberatan gak seandainya kita ketemu nanti, aku meluk apih dari belakang lagi?
Pih, rumah sepi gak ada apih. Tetep sepi sih kalo ada apih disini, cuma rasanya beda pih kalo apih jauh. Mungkin sepinya cuma di hati aku pih, mungkin kalo ada apih, hati aku jadi rame lagi.
Emmm, aku mau nanya sesuatu sama apih. Apih jawab ya. Pih, aku sering banget bilang kangen sama apih, kenapa sih apih gak pernah bilang kangen sama aku? Ya ya ya, apih pernah utarakan alasannya ke aku waktu itu. Ya ya ya, aku tau aku ga usah nanya ini lagi sama apih. Tapi pih, gak semua alasan bisa diterima oleh yang mend….ah sudahlah pih, lupakan saja.
Apih tau gak? Kadang ada banyak banget yang ingin aku kasih tau ke apih, tapi kemudian aku tahan. Aku tau jelas respon apih kalo aku cerita. Aku jadi bingung mau cerita ke siapa pih… Aku jadi ngerasa sendiri…
Pih, seandainya kita ketemu nanti, apih jangan kaget ya, aku mau pake baju yang tipis banget soalnya. Aku gerah nahan rindu ini. Aku pengen pake baju tipis biar aku gak gerah lagi. Biar rindu ini gak tertahan lagi.
Segitu dulu ya pih. Udah jam 11.08. Aku belom ngantuk, tapi aku mau mencoba untuk tidur. Aku pake baju pink dan sepatu biru, temui aku di mimpi yah.
Aku sayang apih.
-
Kulitku tak selembut dahulu, sebelumnya tidakkah kau sadar kau akan membelainya saat usia kita mendekati tua?
-
Susu yang kuminum ketika muda, kuletakkan di meja untuk cucu kita. Kamu ingat? Dulu kamu yang melakukannya.
-
Dzuhur tiba, kusiapkan air untuk bersuci. Aku menanti menghadap kiblat dengan kamu imamnya. Sayang, warna rambutmu sudah seperti mukenah.
-
Tetap kau nanti semua wangi rempah-rempah di dapur kecil yang kucipta meski gerakanku pelan dan piring yang kau pegang jadi bergetar.
-
Mungkin waktu tak mengira, bahwa kita sudah terlalu tua untuk bercinta, dan kita melakukannya tepat di wajah mereka.